KEJUJURAN
Kejujuran adalah keberanian mengakui sebuah
kenyataan apa adanya. Namun tidak mudah untuk berkata jujur. Padahal, kejujuran
adalah awal dari sebuah pembelajaran hidup. Jujur memang tidak selamanya
menyenangkan, namun ini adalah awal kebaikan yang harus kita lakukan. Meski
pada kenyataannya saat berkata jujur kita akan mendapatkan sebuah ejekan,
hinaan, atau bahan pembicaraan yang kurang enak oleh orang. Orang yang jujur
adalah orang yang berani menanggung resiko atas kejujurannya, menjadi jujur itu
sebuah tindakan hebat yang berat.
Kejujuran itu mahal. Kejujuran merupakan mutiara
paling berharga yang membuat siapapun mampu dihargai dan dipercaya. Tuhan
mencintai orang-orang yang berhati jujur, berkata jujur, dan berbuat jujur.
Kejujuran itu bersifat universal. Dibelahan dunia manapun sejauh hati masih
berbicara, dari dalam lubuk hati yang paling dalam pasti masih mencintai
kejujuran. Karena pada dasarnya hati manusia itu mencintai segala sesuatu yang
suci, mengingkari hal-hal yang bertentangan dengan kata hatinya, nalurinya.
Secara lahiriah manusia diciptakan untuk selalu berkonsultasi pada hatinya,
terutama dalam hal memutuskan suatu pilihan baik-buruk dan benar-salah.
Kejujuran memiliki arti yang sangat
penting. Sebab tanpa ada kejujuran hubungan sesama manusia tak akan terjaga,
tak akan berjalan secara harmonis. Pasalnya, setiap orang akan mempunyai waktu dimana
pada saat itu sangat membutuhkan kepercayaan orang lain untuk menjalin hubungan.
Tentu saja kepercayaan muncul karena adanya sikap saling jujur atau kejujuran
yang hadir diantara kedua belah pihak. Bila hanya sebelah pihak yang mampu
memiliki kejujuran, kepercayaan tidak akan pernah tercipta. Maka akan timbul
yang dinamakan dusta yang berujung dengan kebencian. Karena, saat seseorang
tidak jujur senyatanya ia sedang membangun suatu kebencian orang lain pada
dirinya.
Menurut hadits yang diriwayatkan
oleh Tirmidzi, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. “ Maka, sesungguhnya kejujuran itu menenangkan. Adapun berbuat dusta
menjadikan bingung, gugup.” Oleh
karena itu, kejujuran itu sangat bernilai. Seseorang yang jujur akan diliputi
ketenangan, kebahagiaan, dan kepercayaan. Sedangkan orang yang tidak jujur akan
diliputi sikap bingung, gugup, dan tidak tenang. Jika seseorang sudah tidak
jujur, maka kepercayaan orang lain akan jauh dari dirinya.
Sekali berbohong, maka seteruskan
akan berbohong. Mungkin kita mengira ini hanya sebuah kalimat yang tidak
memiliki makna dan landasan apapun. Namun, jika kita menelaah lebih dalam
kalimat tersebut sangat tepat dan benar adanya. Coba kita renungkan, kita akan
berbohong untung menutupi kebohongan kita sebelumnya. Dan secara pasti, kita
akan berbohong untuk menutupi kebohongan yang kita lakukan saat ini. Banyak
yang berdalih melakukan kebohongan untuk kebaikan dan menganggap itu merupakan
suatu kebaikan. “Ngga apa-apa deh bohong
dikit, demi kebaikan juga. Tuhan pasti tau dan paham kok.” memang benar
Tuhan Maha mengetahui dan mengerti
seluruh keadaan yang kita alami, namun bukan berarti kita harus berbohong
dengan alasan keadaan dan demi kebaikan. Kembali lagi kepada kalimat ‘Sekali
berbohong, maka seterusnya akan berbohong.’ Meski hanya berbohong sedikit atau
demi kebaikan, maka itu akan berkelanjutan.
Salah satu alas an mengapa harus
berkata tidak jujur adalah karena memasang label gengsi dalam hidup, atau bahasa lainnya yaitu jaga image. Gengsi, untuk apa harus gengsi
walau akhirnya itu akan menyiksa diri kita sendiri. Memaksa kita untuk menjadi
diri yang lain, menjadikan kita melawan nurani kita sendiri. Hidup yang
dipenuhi dengan kata ‘Gengsi’ hanya akan membuat kita sulit untuk sukses,
karena sedikit-sedikit kita langsung memikirkan gengsi. Memaksa diri untuk
hidup seperti orang lain, yang pada dasarnya itu merupakan gaya hidup yang
sangat bertentangan dengan kehidupan sebenarnya
Sesungguhnya hidup dengan apa adanya merupakan hidup yang lebih baik,
dari pada harus memakai topeng sepanjang hidup hanya demi sebuah gengsi.
Kejujuran sangat menentukan
kesuksesan hidup seseorang. Orang yang tidak jujur, akan berlaku bodoh walau
aslinya sangat cerdas dan berpendidikan tinggi. Ini akan membuat diri seseorang
tersebut melakkan hal-hal yang tidak disukai orang lain, memalukan diri
sendiri, dan banyak melakukan kesalahan. Hal ini hanya akan menurunkan tingkat
kehormatan dan wibawa, walau sebenarnya ia sedang berada dalam kedudukan sangat
tinggi sekalipun. Perlahan namun pasti terjadi, akan turun dan memungkinkan
sampai taraf kedudukan yang paling bawah yaitu tidak dianggap sama sekali oleh
orang sekitarnya.
Setiap manusia menginginkan sebuah kedamain
dalam hidupnya, hidup yang berjalan sesuai dengan kehendak dan keinginan. Kedamaian
yang seutuhnya adalah kedamaian saat kita tidak dilingkupi oleh hal-hal yang
membuat kita resah gelisah, tanpa harus memikirkan ‘bagaimana nantinya setelah
ini seandainya kita berkata ini’, namun merasa bahagia saat memikirkan ‘semoga
ini bermanfaat untuk orang lain’. Kedamaian pikiran akan datang ketika berlatih
untuk jujur, terutama jujur kepada diri sendiri. Namun tanpa kita sadari, saat
kita berkata tidak jujur kepada orang lain secara tidak langsung kita telah
tidak jujur kepada diri sendiri, membohongi hati kita sendiri.
“Mintalah
fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan
keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah.” (HR. Ahmad dan
Al-Darimi)

No comments:
Post a Comment