Monday, January 6, 2014

ARTI KEJUJURAN - Etika Komunikasi Profesional


KEJUJURAN
          Kejujuran adalah keberanian mengakui sebuah kenyataan apa adanya. Namun tidak mudah untuk berkata jujur. Padahal, kejujuran adalah awal dari sebuah pembelajaran hidup. Jujur memang tidak selamanya menyenangkan, namun ini adalah awal kebaikan yang harus kita lakukan. Meski pada kenyataannya saat berkata jujur kita akan mendapatkan sebuah ejekan, hinaan, atau bahan pembicaraan yang kurang enak oleh orang. Orang yang jujur adalah orang yang berani menanggung resiko atas kejujurannya, menjadi jujur itu sebuah tindakan hebat yang berat.

Kejujuran itu mahal. Kejujuran merupakan mutiara paling berharga yang membuat siapapun mampu dihargai dan dipercaya. Tuhan mencintai orang-orang yang berhati jujur, berkata jujur, dan berbuat jujur. Kejujuran itu bersifat universal. Dibelahan dunia manapun sejauh hati masih berbicara, dari dalam lubuk hati yang paling dalam pasti masih mencintai kejujuran. Karena pada dasarnya hati manusia itu mencintai segala sesuatu yang suci, mengingkari hal-hal yang bertentangan dengan kata hatinya, nalurinya. Secara lahiriah manusia diciptakan untuk selalu berkonsultasi pada hatinya, terutama dalam hal memutuskan suatu pilihan baik-buruk dan benar-salah.
            Kejujuran memiliki arti yang sangat penting. Sebab tanpa ada kejujuran hubungan sesama manusia tak akan terjaga, tak akan berjalan secara harmonis. Pasalnya, setiap orang akan mempunyai waktu dimana pada saat itu sangat membutuhkan kepercayaan orang lain untuk menjalin hubungan. Tentu saja kepercayaan muncul karena adanya sikap saling jujur atau kejujuran yang hadir diantara kedua belah pihak. Bila hanya sebelah pihak yang mampu memiliki kejujuran, kepercayaan tidak akan pernah tercipta. Maka akan timbul yang dinamakan dusta yang berujung dengan kebencian. Karena, saat seseorang tidak jujur senyatanya ia sedang membangun suatu kebencian orang lain pada dirinya.
            Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. “ Maka, sesungguhnya kejujuran itu menenangkan. Adapun berbuat dusta menjadikan bingung, gugup.  Oleh karena itu, kejujuran itu sangat bernilai. Seseorang yang jujur akan diliputi ketenangan, kebahagiaan, dan kepercayaan. Sedangkan orang yang tidak jujur akan diliputi sikap bingung, gugup, dan tidak tenang. Jika seseorang sudah tidak jujur, maka kepercayaan orang lain akan jauh dari dirinya.

            Sekali berbohong, maka seteruskan akan berbohong. Mungkin kita mengira ini hanya sebuah kalimat yang tidak memiliki makna dan landasan apapun. Namun, jika kita menelaah lebih dalam kalimat tersebut sangat tepat dan benar adanya. Coba kita renungkan, kita akan berbohong untung menutupi kebohongan kita sebelumnya. Dan secara pasti, kita akan berbohong untuk menutupi kebohongan yang kita lakukan saat ini. Banyak yang berdalih melakukan kebohongan untuk kebaikan dan menganggap itu merupakan suatu kebaikan. “Ngga apa-apa deh bohong dikit, demi kebaikan juga. Tuhan pasti tau dan paham kok.” memang benar Tuhan Maha mengetahui  dan mengerti seluruh keadaan yang kita alami, namun bukan berarti kita harus berbohong dengan alasan keadaan dan demi kebaikan. Kembali lagi kepada kalimat ‘Sekali berbohong, maka seterusnya akan berbohong.’ Meski hanya berbohong sedikit atau demi kebaikan, maka itu akan berkelanjutan.
            Salah satu alas an mengapa harus berkata tidak jujur adalah karena memasang label gengsi dalam hidup, atau  bahasa lainnya yaitu jaga image. Gengsi, untuk apa harus gengsi walau akhirnya itu akan menyiksa diri kita sendiri. Memaksa kita untuk menjadi diri yang lain, menjadikan kita melawan nurani kita sendiri. Hidup yang dipenuhi dengan kata ‘Gengsi’ hanya akan membuat kita sulit untuk sukses, karena sedikit-sedikit kita langsung memikirkan gengsi. Memaksa diri untuk hidup seperti orang lain, yang pada dasarnya itu merupakan gaya hidup yang sangat bertentangan dengan kehidupan sebenarnya  Sesungguhnya hidup dengan apa adanya merupakan hidup yang lebih baik, dari pada harus memakai topeng sepanjang hidup hanya demi sebuah gengsi.
            Kejujuran sangat menentukan kesuksesan hidup seseorang. Orang yang tidak jujur, akan berlaku bodoh walau aslinya sangat cerdas dan berpendidikan tinggi. Ini akan membuat diri seseorang tersebut melakkan hal-hal yang tidak disukai orang lain, memalukan diri sendiri, dan banyak melakukan kesalahan. Hal ini hanya akan menurunkan tingkat kehormatan dan wibawa, walau sebenarnya ia sedang berada dalam kedudukan sangat tinggi sekalipun. Perlahan namun pasti terjadi, akan turun dan memungkinkan sampai taraf kedudukan yang paling bawah yaitu tidak dianggap sama sekali oleh orang sekitarnya.
             Setiap manusia menginginkan sebuah kedamain dalam hidupnya, hidup yang berjalan sesuai dengan kehendak dan keinginan. Kedamaian yang seutuhnya adalah kedamaian saat kita tidak dilingkupi oleh hal-hal yang membuat kita resah gelisah, tanpa harus memikirkan ‘bagaimana nantinya setelah ini seandainya kita berkata ini’, namun merasa bahagia saat memikirkan ‘semoga ini bermanfaat untuk orang lain’. Kedamaian pikiran akan datang ketika berlatih untuk jujur, terutama jujur kepada diri sendiri. Namun tanpa kita sadari, saat kita berkata tidak jujur kepada orang lain secara tidak langsung kita telah tidak jujur kepada diri sendiri, membohongi hati kita sendiri.
 “Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah.” (HR. Ahmad dan Al-Darimi)

No comments:

Post a Comment