Trans N.H. - Teknik Industri
foto: Thinkstock
Total
Productive Maintenance
atau TPM adalah salah satu metode proses maintenance
yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas di area kerja, dengan cara
membuat proses tersebut lebih reliabel dan lebih sedikit terjadi pemborosan (waste). TPM digunakan untuk memelihara
dan meningkatkan kualitas produksi melalui perawatan perlengkapan dan peralatan
kerja seperti Mesin, Equipment dan
alat-alat kerja. Fokus utama TPM ini
adalah untuk memastikan semua perlengkapan dan peralatan produksi beroperasi
dalam kondisi terbaik sehingga menghindari
terjadinya kerusakan ataupun keterlambatan dalam proses produksi.
TPM merupakan konsep
inovatif Jepang yang berawal dari penerapan Preventive
Maintanance pada tahun 1951. Konsep Preventive Maintenance ini sendiri
merupakan konsep yang diadopsi dari Amerika Serikat. Nippondenso yang merupakan
pemasok Toyota adalah perusahaan pertama yang memperkenalkan konsep TPM pada
tahun 1960 dengan slogan “Productivity
Maintenance with total Employee Participation”. Seiichi Nakajima yang saat
itu menjabat sebagai Vice Chairman
JIOPM (Japan Institute of Plant
Maintenance) kemudian dikenal sebagai bapak TPM.
Tujuan dari TPM adalah
untuk meningkatkan produktivitas pada perlengkapan dan peralatan produksi
dengan Investasi perawatan yang seperlunya sehingga mencegah terjadi 6 kerugian besar (Six Big Losses). Selain itu tujuan dari TPM adalah dapat
menghindari terjadinya kecelakaan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang
aman bagi karyawannya.
6 kerugian besar (Six Big Losses) tersebut adalah:
1.
Breakdown:
Kerugian akibat Rusaknya Mesin (Peralatan dan Perlengkapan Kerja),
2.
Setup and adjustments: Kerugian yang diakibatkan perlunya
Persiapan ulang peralatan dan perlengkapan kerja,
3.
Small stops: Kerugian akibat terjadinya gangguan
yang menyebabkan mesin tidak dapat beroperasi secara optimal,
4.
Slow running: Kerugian yang terjadi karena mesin
berjalan lambat tidak sesuai dengan kecepatan yang diinginkan,
5.
Startup defect: Kerugian yang diakibatkan terjadi
cacat produk saat startup (saat awal
mesin beroperasi),
6.
Production defect: Kerugian yang terjadi karena banyaknya
produk yang cacat dalam proses produksi.
Dari keenam kerugian
tersebut dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu availability (waktu kesediaan mesin) terdiri dari breakdowns dan setup/adjustments, performance
(jumlah unit yang diproduksi) terdiri dari small
stops dan slow running, dan quality (mutu yang dihasilkan) terdiri
dari startup defects dan production defect.
TPM dapat digunakan untuk
memperbaiki kinerja perusahaan dengan melakukan pengamatan pada tiap lini
produksi dan analisa berdasarkan keterkaitan antara konsep Antonomous Maintenance dan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE). Dalam mengevaluasi dan
mengukur sejauh mana keberhasilan penerapan TPM, alat pengukuran utama yang
digunakan adalah Overall Equipment
Effectiveness (OEE).
OEE merupakan ukuran menyeluruh
mengendentifikasikan tingkat produktivitas mesin dan kinerja secara teori.
Pemgukuran ini sangat penting untuk mengetahui area mana yang perlu untuk di tingkatkan
produktivitas maupun efisiensi mesin dan dapat juga meunjukkan area bottleneck yang terdapat pada
lintasan produksi. OEE juga merupakan alat ukur untuk mengevaluasi dan
memperbaiki cara yang tepat untuk menjamin peningkatan produktivitas penggunaan
mesin/peralatan.
No comments:
Post a Comment